Kamis, 27 Oktober 2011

RUMUS TAQWA


Dalam hidup, apapun yang kita lakukan kerangkanya adalah untuk menjadi insan yang bertaqwa. Untuk itu, ada sebuah rumus yang dapat kita ingat agar tercapai tujuan kita.





Taqwa kita notasikan sebagai T, yang terbentuk atas perkalian dua variabel. Variabel pertama adalah Im (iman) yang berpangkat Il (ilmu). Sedangkan variabel kedua adalah Am (amal).
Kita bahas satu persatu.
Iman berpangkat ilmu. Maksudnya, seiring dengan pertambahan ilmu kita, semakin luasnya pengetahuan kita, maka sudah seharusnya iman kita turut menguat. Mengapa? Karena ilmu membuktikan apapun yang ada didunia ini adalah bukti kebesaran Allah. Betapa Ia Maha Kuasa menjadikan segala sesuatu, betapa Ia Maha Kaya dan kita tak lebih dari sebutir debu di jagad raya ciptaanNya. Seluas apapun pengetahuan kita, semakin sadar kita betapa banyak lagi hal yang belum kita ketahui diluar sana.
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Luqman (31) : 27)
“Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (Q.S. Al Kahfi (18) : 109)
Semakin baik iman dan ilmu kita semakin kita tahu bahwa Ia Maha Pemurah dengan memberikan kita segalanya... maka taqwa adalah perwujudan rasa syukur kita, terima kasih kita, karena jika Ia menginginkan segalanya Ia ambil kembali tak ada satupun makhluk yang sanggup menggagalkanNya.
Amal adalah pembuktian iman dan ilmu kita. Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Semakin kita tahu ilmunya, semakin baik iman kita dalam mempercayainya, maka sudah seharusnya semakin profesional amalan kita, semakin baik ibadah kita, semakin hikmah lisan kita, semakin sering wajah kita berhias senyum untuk saudara disekeliling kita...
Allah itu Maha baik dan menghendaki kebaikan...
Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan...
Maka alangkah beruntungnya diri kita bila memanfaatkan usia dengan amalan-amalan yang baik dan menghiasi hidup kita dengan keindahan... 
Dan seperti hukum perkalian, jika kita mengalikan sebesar apapun dengan angka nol, hasilnya tetap nol. Sebanyak apapun ilmu kita, sekuat apapun kita meyakini kita beriman, tapi jika amalannya nol, maka hasilnya tetap nol. Misal, kita tahu bahwa shalat lima waktu wajib, kita tahu bahwa kehalalan harta dipertanggungjawabkan nantinya, tetapi kita tidak melaksanakan dan mendapatkannya, maka tidak ada dampaknya ilmu dan pengetahuan kita tersebut untuk kehidupan dunia-akhirat kita. Sebanyak apapun amalan kita jika dilakukan tanpa iman dan ilmu maka hasilnya tetap nol. Misal, kita ingin disayang Allah maka kita menambah bilangan shalat Shubuh kita menjadi 4 atau 6 raka’at, maka amalan tertolak karena kita tidak tahu ilmunya. Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”.
(Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”).
Atau karena ingin terlihat baik, seseorang menyedekahkan hartanya kepada kaum papa, tetapi dengan digembar-gemborkan kepada semua pihak.
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan Rabbnya dengan sesuatu pun.” (QS. Al Kahfi [18] : 110)
Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat ini, “Inilah dua rukun diterimanya amal yaitu [1] ikhlas kepada Allah dan [2] mencocoki ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Juga mengingat Sabda Nabi dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. (HR. Bukhari - Muslim)

Salah satu hikmah yang dapat diambil dari datangnya maut yang tak dapat diprediksi :
Kita tahu bahwa nyawa kita adalah milik Allah, kita tahu bahwa kita tak dapat meminta  malaikat maut urung menjemput, maka setiap menit yang tersisa maksimalkan untuk beramal sholeh.
Semoga kita dapat melaksanakannya. Amiin...


(inspired by Siswono Kuat Azzam on his notes in FB)

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Blog Archive

Blog Stats

About Me

Foto saya
seorang perempuan yang ingin berbagi megahnya dunia dengan kata-kata...

Search

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers