Kamis, 19 Januari 2017

Remaja dan Kepedulian Sosial






Setiap kita terlahir di dunia tentu tak pernah bisa memilih akan terlahir dari rahim siapa dan dalam kondisi keluarga seperti apa, juga di belahan bumi mana kita nantinya menyapa dunia untuk pertama kalinya lewat tangisan kita.
Tentunya kondisi ini seharusnya cukup untuk menjadi pengingat bagi kita, bahwa dimanapun kita berada saat ini, sudah seharusnya kita bersyukur dan mengingat saudara-saudara kita yang berada dibawah langit yang sama tetapi barangkali dengan situasi yang kurang nyaman dibandingkan dengan kehidupan kita.
Bagaimana cara kita bersyukur?
Salah satunya dengan memberikan apa yang dianugerahkan kepada kita. Allah telah berjanji bahwa dengan memberi kita takkan bertambah susah/miskin, malah memperoleh ganjaran yang besar.


“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.” (Q.S. Ibrahim : 31)
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah : 261)







Allah pun telah memberikan panduan cara bagi kita dalam berbagi, seperti yang diungkapkan dalam ayat-ayat ini :

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(Q.S. Al Baqarah : 262)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S. Al Baqarah : 264)

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.S. Al Baqarah : 267)

Lalu, apa kaitannya dengan remaja?
Tentunya... menanamkan bibit-bibit kebaikan dan melaksanakannya akan lebih baik jika dibiasakan sedari kecil. Jika sudah remaja  tentu lebih mudah diajak berlogika dan membangun empati, dibandingkan dengan anak usia dini. Ketika kecil dikenalkan aktivitasnya, beranjak remaja diisi filosofinya. Sehingga lengkap pemahaman ketika dewasanya, insyaaAllah.

Mari jadikan memberi sebagai wujud kita bersyukur, dengan berharap ridhoNya saja...

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Q.S. Al Insan : 9)

 
@beraniberhijrah
Erma@2017

Selasa, 17 Januari 2017

Perjalanan (lumayan) Panjang Menuju Rak Buku



Perjalanan (lumayan) Panjang Menuju Rak Buku

“A room without books is like a body without a soul.” 

Buntelan buku dari Melbourne 💖
Bukan saya yang mengatakan hal tersebut, tetapi Marcus Tullius Cicero, seorang senator muda, filsuf, orator yang memiliki keterampilan handal dalam retorika, pengacara, penulis, dan negarawan Romawi kuno yang umumnya dianggap sebagai ahli pidato Latin dan ahli gaya prosa. Beliau tiada di tahun 43 SM.

Tentu bukan kapasitas saya mendebat Cicero, sebab, seperti yang kita sama-sama tahu, Cicero jelas seorang yang banyak tahu dan saya mah apa atuh, hanya seorang penggila huruf yang berbaris menjadi kata dan merangkai kalimat demi kalimat yang tertimbun dalam sebuah buku!
Tsaaahhhh....! (kibas poni jilbab)(pelan aja)

“Hampa terasa hidupku tanpa dirimu...”
Kalau itu yang ngomong Ari Lasso, dan saya tentunya dapat mengatakan yang sama terhadap buku... Bahwa tanpa mereka, sepi hidup saya.. Bener!
Nyaris tak ada hari tanpa buku dalam genggaman, dan ini berarti list panjang PR bacaan yang harus saya miliki demi tercapainya target membaca minimal lima buku per bulan. Iya, minimal, karena ketika senggang, target lima buku per pekan bukan perkara susah buat saya.  😂

Wajar jadinya, memilih buku dalam hidup seorang Ermawati tentulah bukan perkara 1+1=2, perlu pertimbangan - dan pertimbangan - dan pertimbangan, sebelum akhirnya saya memutuskan sebuah buku layak saya beli dan baca. Ada yang pada akhirnya saya memutuskan cukup cari pinjaman saja pada yang punya, tetapi ada pula yang setelah saya membacanya, saya memastikan harus memilikinya, yang kadang orang bilang : buat apa beli kalau udah baca!
But hey, I’m different, heheee...

Maka ketika masa berburu itu tibaa..., inilah yang biasanya saya lakukan...
 
*  Kenali kebutuhan dan minat kita! Buku yang kita baca jangan hanya asal baca saja, tetapi harus menyokong pengembangan diri kita. Ini penting, sebab kita terkadang lupa apa tujuan kita membaca buku. Buku yang  baik adalah buku yang isinya baik dan mengarahkan kita menjadi baik.
*  Saya biasanya sudah memiliki daftar buku yang harus diburu. Dapatnya dari mana? Dari mana-mana! Dari cerita teman, dari berita koran, dari info forum pembaca, dari mana-mana... dan ketika saya harus berbelanja, saya tinggal melirik daftar ini saja, meski tidak lepas kemungkinan ada saja buku diluar daftar yang akhirnya keangkut juga.. Daftar ini memudahkan saya ketika kehabisan buku dan harus membeli lagi untuk bahan bacaan saya.

*  Bagaimana memilih buku mana yang akan dibeli?

Pertama, saya yakinkan diri bahwa pengaruh buku ini adalah baik, ada pengetahuan yang saya dapatkan dan bermanfaat bagi hidup saya dengan beragam warnanya. Setelah saya yakin, saya cari reviewnya, cerita orang-orang yang telah membacanya. Tentu tidak sembarang orang, biasanya blog yang tergabung dalam blogger buku Indonesia dan review dalam Goodreads-lah yang saya baca. Dengan mempertimbangkan pula asal bukunya, dapat gratisan kah? Atau buntelan penerbit? Saya biasanya meletakkan review yang bukunya model begini belakangan, karena kadang orang menulis bagusnya saja tapi menyembunyikan kekurangan bukunya...

*  Setelah membaca banyak review, saya berusaha pula membaca preview atau pratinjaunya. Apa itu preview? Preview adalah bagian buku yang dapat kita lihat-lihat dan baca dahulu isinya. Biasanya saya baca di Google books..
Ingat, bukan sinopsis yaa... Sinopsis biasanya ada di resensi atau juga dapat kita lihat di belakang buku, kadang bagi saya sinopsis kurang menggambarkan isi buku. Dengan membaca preview saya bisa menilai apakah saya suka dengan gaya bahasa penulisnya, cara bertuturnya, dan tulisan dalam bukunya.

*  Bagaimana dengan penulis? Dilihatkah?
Jelaaaas.... background dan track record penulis memudahkan saya memahami pola pikir dan nilai yang ia bagi dalam bukunya. Tentu berbeda membaca buku jenis
 travelogue yang ditulis oleh Trinity yang basicnya pegawai dan travel awalnya untuk have fun, dengan kisah perjalanan Agustinus Wibowo atau Matatita yang keduanya adalah wartawan, ambiencenya beda.
Juga tentu berbeda membaca historical fiction yang ditulis Sinta Yudisia yang terkenal akan risetnya yang mendalam dibanding penulis lain yang asal comot kejadian dan kurun waktu tetapi tidak ngeblend dengan jalinan kisahnya. Jika saya sudah cocok dengan penulisnya, biasanya saya memburu buku-bukunya. Koleksi.

Pernah kecewa dengan buku penulis yang disukai?
Pernah... kadang harapan saya se-apa, ternyata pas baca ngedrop... tak seperti biasanya kualitas penulisannya. Yah... tinggal pemakluman kita saja, bahwa
penulis juga manusia kan? Ada naik dan turunnya.  

*  Naaah.. setelah saya yakin dengan bukunya, lihat lagi harganya... heheee...
*
mak.emak.irit
Memungkinkan? Terjangkau? Masuk akal? Cusss... beliii...
Kadang saya nemu buku yang sudah lama diincar tapi ga dibeli karena mahal, eh di obralan ketemu dengan harga miring, entah karena diskon, entah karena stok lama atau juga bekas display, selama buku masih utuh saya ga keberatan...

*  Saat obralan buku adalah saat yang tepat saya berbelanja. Kenapa? Karena bisa membahayakan kantong jika saya berbelanja semua buku saya dengan harga normal... J Saya hapal event-event saya harus berburu buku, biasanya saat akhir / awal tahun, saat HUT Jakarta, saat ultah toko buku (baik toko buku online maupun konvensional), pameran buku, HUT penerbit, dan lain sebagainya. Tentu saya juga mencari tahu, karena tidak semua info obralan buku tersebar hingga mana-mana macam IBF dan Jakbook Fest. Rajin googling kuncinya. (yes, googling is a verb, you know! J ) Ketemu momennya, belanjalah saya... Eurekaaa!

*  Rawatlah minat baca kita. Berteman dengan mereka yang suka baca semoga menjadikan kita juga suka membaca. Bergabunglah dengan komunitas-komunitas pembaca, seperti Goodreads atau Serapium. Bacalah blog-blog pembaca buku yang rajin menuliskan aktivitasnya bersama buku, macam mereka yang tergabung dalam  blogger buku Indonesia....

*  Dan terakhir, bersyukurlah... Allah memberi kita kemampuan untuk membaca dan menambah pengetahuan. Manfaatkan itu, semoga kita tidak termasuk orang-orang yang lalai akan nikmatNya, na’udzubillah....
Siapa tahu, yang tadinya hanya suka membaca, suatu hari kita akan menjadi penulis yang bukunya dibaca orang-orang,
Aamiin...


Bisa jadi, berawal dari hanya membaca, buku datang sendiri pada kita, karena kita rajin menulis review buku-buku yang kita baca. Enak kan? Gratisan.... :P



Apakah saya pernah mendapat buku gratisan seperti ini? Pernah, Alhamdulillah. J
Yang
terjauh berasal dari Melbourne, Australia sana, sebuah buku berjudul
Home Country, yang ditulis oleh T.W. Lawless. Dipaketkan dengan kemasan rapi dan apik, membuat bahagia saya yang menerimanya.
Penampakannya dapat dilihat diawal tulisan ini... 😇




Ok kawans...
 Happy Reading !


Erma@2017
















Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Blog Archive

Blog Stats

About Me

Foto saya
seorang perempuan yang ingin berbagi megahnya dunia dengan kata-kata...

Search

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers