Remaja dan Kepedulian Sosial
Setiap kita terlahir di dunia tentu tak pernah bisa memilih
akan terlahir dari rahim siapa dan dalam kondisi keluarga seperti apa, juga di
belahan bumi mana kita nantinya menyapa dunia untuk pertama kalinya lewat
tangisan kita.
Tentunya kondisi ini seharusnya cukup untuk menjadi
pengingat bagi kita, bahwa dimanapun kita berada saat ini, sudah seharusnya
kita bersyukur dan mengingat saudara-saudara kita yang berada dibawah langit
yang sama tetapi barangkali dengan situasi yang kurang nyaman dibandingkan
dengan kehidupan kita.
Bagaimana cara kita bersyukur?
Salah satunya dengan memberikan apa yang dianugerahkan kepada
kita. Allah telah berjanji bahwa dengan memberi kita takkan bertambah
susah/miskin, malah memperoleh ganjaran yang besar.
“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang
telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian
rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan
sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan
persahabatan.” (Q.S. Ibrahim : 31)
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)
orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan
sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.
Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha
Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah : 261)
Allah pun telah memberikan panduan cara bagi kita dalam
berbagi, seperti yang diungkapkan dalam ayat-ayat ini :
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya
di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu
dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si
penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(Q.S. Al
Baqarah : 262)
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan
menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya
karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari
kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada
tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak
bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S. Al Baqarah :
264)
“Hai orang-orang yang beriman,
nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan
sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu
memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu
sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya.
Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.S. Al Baqarah :
267)
Lalu, apa kaitannya dengan remaja?
Tentunya... menanamkan bibit-bibit kebaikan dan melaksanakannya
akan lebih baik jika dibiasakan sedari kecil. Jika sudah remaja tentu lebih mudah diajak berlogika dan
membangun empati, dibandingkan dengan anak usia dini. Ketika kecil dikenalkan
aktivitasnya, beranjak remaja diisi filosofinya. Sehingga lengkap pemahaman
ketika dewasanya, insyaaAllah.
Mari jadikan memberi sebagai wujud kita bersyukur, dengan
berharap ridhoNya saja...
“Sesungguhnya kami memberi makanan
kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki
balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Q.S. Al Insan : 9)
Erma@2017

